Lynx menyandarkan punggungnya ke dinding kayu, bersikap santai sambil tertawa kecil. “Kau makin membuat kami penasaran, Lala. Setidaknya berikan sedikit petunjuk.”

Lala tersenyum, tapi sorot matanya tetap menyimpan rahasia. “Kalau kuberi tahu sekarang, di mana serunya? Besok malam sudah bulan purnama. Kalian akan tahu jawabannya saat itu.”

Jelita mendesah pelan, lalu duduk di bangku panjang. “Tiga tahun kita terpisah, dan saat bertemu lagi, kau malah memberi kami teka-teki.”

Lala terkekeh ringan. “Tentu saja. Aku kan selalu penuh kejutan.”

Lynx menghela napas, lalu menatap Lala dengan serius. “Baiklah, tapi setidaknya ceritakan apa yang terjadi setelah kita berpisah.”

Lala menatap mereka sejenak sebelum menghela napas panjang. “Sabar, anak muda. Kita harus menemui seseorang terlebih dahulu agar semuanya jelas,” katanya, nada suaranya dibuat-buat seolah sedang mengerjai Lynx. Tapi sesaat kemudian ekspresinya berubah serius. “Yang pasti, dunia ini tidak sama lagi seperti dulu. Salah satunya… ada seseorang dari suku Monrest yang berhasil selamat dan kini muncul kembali.”

Jelita tersentak. “Suku Monrest? Bukankah mereka semua sudah musnah?”

Lynx pun tak kalah terkejut. Dalam ingatannya, seluruh suku Monrest lenyap saat naga penghancur mengamuk, membakar semua suku Monrest,  bahkan leluhur Monrest pun di makannya. “Apa kau yakin? Siapa orang itu?”

Lala menggeleng pelan. “Aku pun masih mencari kepastian. Tapi kita akan mengetahuinya segera. Kemungkinan dia ikut masuk ketika kita berusaha mengumpulkan orang-orang yang ada di pulau itu untuk dibawa mengungsi.”

Lynx berpikir sejenak sebelum bertanya, “Lala, kau tahu sesuatu tentang Senjata Iblis?”

Lala menyilangkan tangan, ekspresinya sedikit mengeras. “Itulah penyebab kekacauan belakangan ini. Banyak orang berkumpul di Kota Zhurong karena mengira fragmennya ada di sini. Tapi ternyata, mereka salah… Fragmen itu sebenarnya berada di Kota Huoling, dan sekarang sudah jatuh ke tangan musuh.”

Lynx mengepalkan tangan, matanya berkilat dingin. Lala menangkap perubahan ekspresinya dan melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Aku sudah mendengar apa yang terjadi… Kau terlibat dalam upaya menangkap mereka, bukan?”

Lynx mengangguk tanpa berkata-kata. Ada bayangan kekecewaan di wajahnya, dia terlalu menganggap remeh musuhnya sehingga wanita itu berhasil melarikan diri membawa fragment senjata iblis.

Lala menatapnya dengan penuh pengertian. “Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Lynx. Yang penting sekarang, kita harus mencari cara untuk menghentikan mereka sebelum semuanya terlambat.”

Lynx mendengus kecil. “Dunia ini semakin kacau saja.”

Lala mengangguk. “Apakah kamu sudah mengetahui kisah senjata iblis itu? Aku yakin jika Senjata Iblis itu berhasil dibangkitkan, kau adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya.”

Lynx mendengus, matanya masih menatap kosong. “Aku sudah mendengarnya dari walikota Huoling, tapi Lala, kau tahu… di dunia ini, kebaikan dan kejahatan selalu berputar tanpa henti. Bukan aku tidak ingin menolong mereka, tapi ada hal yang lebih penting bagiku.” Ia menatap lurus ke arah Lala. “Aku harus memastikan keselamatan kalian semua, menyelamatkan suku Surya, lalu menemukan jalan kembali ke duniaku bersama Leena. Karena itu, aku tidak ingin terlibat dalam masalah lain. Mereka harus menyelesaikan masalah mereka sendiri.”

Lala terdiam, menatap Lynx dengan ekspresi sulit diartikan. Dia tahu sifat Lynx yang tidak pernah bisa diam begitu saja ketika melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan. Namun akhirnya, dia hanya mengangguk kecil. “Aku mengerti… Bagaimanapun, dunia ini bukanlah tempat kita. Masih ada tempat lain yang bisa kita sebut rumah.” Suaranya terdengar lirih, dan sejenak, kesedihan terlihat di matanya.

Lynx menyadarinya. Dia menepuk bahu Lala dengan lembut. “Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku tahu kau pasti rindu rumah.”

Lala tersenyum tipis, meski air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. “Aku hanya… Sejak Kakek Mochi pergi, aku tak punya siapa-siapa lagi.”

Lynx menatapnya dalam-dalam. “Kau tidak sendiri, Lala. Kita adalah keluarga. Aku berjanji, apa pun yang terjadi, aku akan memastikan kita semua tetap bersama.”

Lala menggigit bibirnya, menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. Sementara itu, Jelita menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat dengan keluarganya yang belum ada beritanya hingga saat ini.

Di luar, sinar matahari masih menyinari jalanan Kota Zhurong, tetapi di dalam ruangan itu, suasana terasa berat oleh beban masa lalu dan ketidakpastian masa depan.

"Tapi Lynx, bagaimana kau bisa mengenaliku? Bukankah aku menggunakan penutup wajah saat bertarung tadi?" tanya Lala, mengalihkan pembicaraan untuk memecah kebekuan di antara mereka.

Lynx menyeringai, menatapnya dengan penuh arti. “Kasih tahu nggak, ya?” katanya, menjulurkan lidah seolah ingin membalas sikap Lala yang suka bermain teka-teki dengannya.

Lala mengerutkan kening, lalu tanpa peringatan mencubit pinggang Lynx dengan gemas. “Ayo cepat bilang! Kalau tidak, aku akan mengadukan sikapmu ke Leena nanti,” ancamnya dengan nada main-main.

Lynx yang awalnya pura-pura kesakitan tiba-tiba menghentikan tawanya. Tatapannya berubah tajam. “Leena? Kau tahu di mana dia?”

Jelita yang sejak tadi diam ikut memperhatikan. Dia tahu lebih dari siapa pun bahwa selama bertahun-tahun, satu-satunya orang yang paling ingin ditemui Lynx adalah Leena.

Lala terdiam sejenak, lalu menatap Lynx dan Jelita bergantian. “Aku kira Leena juga bersama kalian…” Gumamnya pelan, sebelum akhirnya menyadari sesuatu. “Benar juga… Kau tadi bilang selama hilang ingatan, Jelita yang menjagamu…”

Lynx menunggu dengan cemas, berharap Lala bisa memberikan petunjuk yang selama ini dia cari.

Namun yang didapatkannya justru sebaliknya. Lala menghela napas panjang sebelum berkata, “Leena sama seperti kalian… Tidak ada jejak yang kami temukan.”

Keheningan menyelimuti ruangan. Lynx mengepalkan tangannya, sementara Jelita menatapnya dengan penuh simpati.

Lala menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena tidak bisa membawa kabar baik. “Maaf, Lynx…” katanya pelan.

Lynx menggeleng, berusaha menekan emosi yang bergolak di dadanya. “Tidak apa-apa… Aku yakin kita akan menemukannya.”

"Lala, apakah kau mengenal wanita bernama Ling Mei?" tanya Lynx lagi, suaranya terdengar datar, tetapi matanya menyorot tajam, penuh harapan.

"Ling Mei?" Lala mengerutkan kening. "Maksudmu wanita dari Sekte Api Langit?" tanyanya untuk memastikan.

Lynx dan Jelita mengangguk bersamaan. Mereka menunggu dengan penuh harap, berharap Lala mengetahui sesuatu.

Lala menghela napas sebelum menjawab. "Setahun yang lalu, aku sempat bertemu dengannya. Saat itu, dia sedang mengantarkan adik seperguruannya ke Kota Huoling. Awalnya, aku mengira dia adalah Leena, tapi setelah melakukan penyelidikan, dia bukanlah Leena yang kita kenal. Dia adalah anak salah satu tetua Sekte Api Langit."

"Apakah kalian juga bertemu dengannya?" lanjut Lala.

Jelita menundukkan kepala, tatapannya beralih pada Lynx yang diam membisu. Ia tahu, ini bukan jawaban yang ingin didengar Lynx. Dengan suara pelan, ia menjawab, "Ya… kami pernah bertemu dengannya."

Lynx mengepalkan tangannya, lalu bertanya dengan nada serius, "Apakah kau yakin?"

Lala menatapnya dalam-dalam sebelum mengangguk. "Informasi dari Sekte Api Langit memang sulit didapatkan, tetapi berkat jaringan kita yang tersebar, aku berhasil memperoleh beberapa hal tentang wanita itu. Dia baru keluar dari pelatihannya sekitar dua tahun lalu. Dalam waktu singkat, dia berhasil mencapai tingkat kultivasi yang luar biasa untuk usianya."

Lynx tetap diam, mendengarkan setiap kata dengan saksama.

Lala melanjutkan dengan suara mantap, "Selain itu, dari tingkat kultivasinya saja, tidak mungkin Leena bisa mencapai ranah setinggi itu hanya dalam tiga tahun."

Lynx dan Jelita mengangguk, menerima logika yang diberikan Lala. Namun, hanya Lynx yang tahu betapa dalam rasa kecewa yang ia rasakan. Kenangan saat di dunia kecil kembali menghantam pikirannya, terutama tentang hal yang telah terjadi antara dirinya dan Ling Mei… sesuatu yang sudah melewati batas.

Han Shu mendadak berlari membawa selembar surat, napasnya memburu saat menyerahkannya kepada Lala. Dengan gerakan cepat, Lala merobek segelnya dan membaca isi surat itu. Wajahnya langsung memucat.

“Lynx!” serunya panik. “Kael dan Arkha dalam bahaya! Mereka dikejar belasan kultivator Forging Qi, dipimpin oleh beberapa Master Foundation. Mereka bersembunyi di Hutan Yinghuo, tapi aku tidak yakin artefak yang mereka miliki bisa menyembunyikan mereka lebih lama. Kita harus secepatnya menolong mereka.”

